Money Is Yours But Resources Belong To The Society

Money Is Yours But Resources Belong To The Society
MarnesKliker.com - Setelah menyantap sarapan bubur, lalu membuat segelas kopi item warisan karuhun, kemudian saya nyalain kompie jadul saya dan mulailah berselancar di dunia maya. Iseng-iseng sambil blogwalking ditemani segelas kopi panas plus alunan musik underground “Purgatory” yang berjudul Hipocrishit turut menemani saya di pagi yang cerah ini. 

Ketika sedang asyik berwara wiri ria bareng si Mbah, secara tak sengaja saya menemukan sebuah artikel di salah satu blog yang menarik perhatian saya ingin membacanya. Karena artikel tersebut berbahasa Inggris saya pun meminta bantuan sama si Mbah. Dengan bantuan Google translate, saya pun mencoba membacanya secara perlahan-lahan. Sepertinya artikel ini menceritakan tentang seorang peneliti (mungkin mahasiswa) yang sedang melakukan perjalanan studi di Hamburg, Jerman. Yang kemudian orang ini bertemu dengan rekan-rekannya yang bekerja di Hamburg. Kurang lebih seperti inilah alur ceritanya (harap maklum ya kalo terjemahannya acakadut) :


Jerman adalah sebuah negara industri yang sangat maju. Di negara maju seperti ini, mungkin banyak orang yang berpikir bahwa masyarakat di negara tersebut hidup dalam kemewahan. Setidaknya itu kesan saya sebelum melakukan perjalanan studi saya. Ketika saya tiba di Hamburg, rekan-rekan saya yang bekerja di Hamburg telah mempersiapkan pesta untuk menyambut kedatangan saya. Ketika kami masuk ke sebuah restoran, kami melihat banyak meja yang kosong.

Ketika itu disebuah meja restoran terdapat pasangan muda mudi yang sedang menikmati makanannya. Di meja itu hanya ada dua piring makanan dan dua kaleng bir. Saya membayangkan apakah bisa makanan simpel seperti itu dibilang romantis, dan mungkin saja si wanita itu akan meninggalkan si pemuda yang pelit tersebut.

Selain pasangan muda-mudi tadi di sana juga ada beberapa wanita tua di meja yang lain. Ketika hidangan disajikan, si pelayan akan mendistribusikan makanan tersebut ke piring mereka masing-masing, dan mereka akan menghabiskan makanan mereka sampai tidak tersisa di atas piringnya.

Karena kami lapar, rekan saya tadi yang juga orang lokal (mungkin orang Jerman mungkin juga bukan), memesan makanan yang cukup banyak untuk kami. Ketika kami selesai dan pergi, masih ada makanan yang tersisa kira-kira sepertiga dari porsi awalnya.

ketika kami akan meninggalkan restoran tiba-tiba seorang wanita tua memanggil kami. Rupanya wanita tua di restoran tersebut sedang membicarakan tentang kami kepada pemilik restoran. Ketika mereka berbicara dalam bahasa inggris kepada kami, dan kami mengerti ternyata wanita tua tersebut tidak senang dengan kami yang menyisakan banyak makanan di atas meja tadi.

Salah satu rekan kami berkata kepada wanita tua tersebut “Kami kan sudah bayar makanan tadi, bukan urusan anda berapa banyak makanan kami yang tersisa”. Wanita tersebut menjadi geram, dan salah satu dari wanita tersebut dengan seketika mengambil handphonenya dan menelpon seseorang.

Beberapa saat kemudian, seorang petugas pria dengan seragam Organisasi Keamanan Sosial tiba. Dia sudah mengetahui masalahnya, dan dengan seketika mengeluarkan surat denda sebesar 50 Mark. Kami semua terdiam, kemudian kami pun membayar denda tersebut sambil berkali-kali meminta maaf kepada petugas tersebut.

Petugas tersebut berbicara kepada kami dengan suara yang tegas “Pesan! Apa yang bisa Anda habiskan, uang itu memang milik Anda tapi supply makanannya milik masyarakat. Masih banyak orang di dunia yang menghadapi kekurangan makanan. Anda tidak memiliki alasan apapun untuk menyia-nyiakan makanan tersebut”.

Pola pikir masyarakat di sebuah negara yang kaya seperti Jerman ini telah membuat kami malu pada diri kami sendiri. Kita perlu merenungi hal ini. Kami berasal dari negara yang tidak seberapa kaya sumber dayanya. Untuk menahan rasa malu karena gengsi, kami sering memesan dan mentraktir orang dengan makanan yang banyak dan disaat setelah makan kita membuang sisanya dengan sia-sia.

Dari cerita di atas kita mendapatkan pelajaran yang berharga, setidaknya cerita di atas telah memberi pelajaran kepada kita semua untuk berpikir serius dan merubah kebiasaan buruk kita. Beberapa hal yang tidak kita sadari, bahwa secara tidak sadar banyak diantara kita yang suka menyisakan makanan. Kebiasaan buruk inilah yang telah menjadikan kita jadi orang-orang yang menyia-nyiakan makanan. Meskipun mungkin tidak ada niatan untuk membuang makanan tetapi kita tidak sadar kalau kita telah menjadi bagian orang yang menyia-nyiakan makanan tersebut. [source: germanystudy.net]

10 komentar

Salud deh mas sama petugas nya ..yg tegas ngomong gitu
Jd ngingetin ke kita juga biar ndak menyia2 kan makanan ya :)

Iya mas Bud, disadari atau tidak masih banyak diantara kita yang suka menyia-nyiakan makanan dengan tidak menghabiskan makanannya.

setidak-tidaknya..kita dapat menghargai rejeki yg diberikan..kan byl tuh di belahan bumi lainnya..masih nasih ada sodara kita yg kekurangan makanan..!

Iya mas mungkin yang lebih tepat mensyukuri rezeki yang telah Allah limpahkan kepada kita. Selain itu juga agama mengajarkan kepada kita untuk tidak membuang makanan dengan sia-sia.

Selalu berusaha dengan kebiasaan yang baik ya Mas Marnes agar semuanya
Menjadi baik .. ceritanya bisa buat pelajaran kita semua yah Mas Marnes
Makasih atas sharenya *salam sukses :)

Betul banget mas, mudah-mudahan cerita di atas membuat kita sadar dan berusaha untuk merubah kebiasaan buruk yang mungkin disadari atau tidak selama nie sering kali kita lakukan :)

ibarat menahan nafsu terhadap suatu makanan ya kang, jadi pesanlah makanan sekedarnya saja untuk menghilangkan rasa lapar, bukan untuk berfoya-foya dgn menyisakan makanan :)

Betul banget kang, sepakat pokona mah :)

ya berusaha untuk dinikmati aja mbak :)


EmoticonEmoticon